Jumat, 01 Mei 2009

USAHA 1% DARI TUKANG SAPU SAMPAI CALON PRESIDEN

Sebulan yang lalu saya berdialog santai dengan rekan kerja dikantor tentang kinerja dan semangat kerja para karyawan mulai dari tukang sapu hingga level manager, kami berdiskusi kenapa kok penjualan di perusahan kami masih tetap konstan saja.
Kebetulan saya dan teman saya itu bekerja di bagian penjualan, kami membahas aura dan suasana yang dirasakan dilingkungan kami memang relatif tanpa ketegangan, dari pagi sampai sore setiap hari yang dirasakan hanya aura kesantaian dan tanpa beban walaupun tetap bersemangat untuk memajukan perusahan karena dari sinilah rejeki kami disalurkan.
Beberapa hari yang lalu saya menonton salah satu stasiun TV swasta yang menayangkan acara dialog dengan salah satu calon presiden yang baru saja bercerai dari pasangan koalisinya, beliau ini sebenarnya kecewa karena merasa tidak memenuhi syarat untuk menjadi calon wakil presiden lagi padahal beliau merupakan ketua umum dari partai besar yang selama ini sudah duduk dikursi pemerintahan.
Pada acara itu dilontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam oleh pembawa acara yang terus mendesak dan mengiming-imingi penonton untuk tetap bersabar menonton acara tersebut karena akan dipaksa keluar pernyataan tentang siapa calon wapres sebagai pendamping bapak ketua umum partai besar ini untuk bisa memenangkan pertarungan sengit melawan bekas patner kerjanya selama 5 tahun memimpin negeri ini.
Jawaban demi jawaban yang keluar tanpa beban dan santai dilontarkan tanpa menjawab inti pertanyaan pembawa acara. "Jadi siapa yang akan maju mendampingi bapak untuk maju menjadi calon presiden?" Tanya pembawa acara, "yah... kita tunggu saja nanti pasti akan saya beritahu pada saatnya..." jawab beliau.
"Apakah benar cawapres yang akan mendampingi anda adalah bapak mantan jendral yang jadi sekarang menjadi ketua umum partai baru yang masuk dalam 5 besar calon pemenang pemilu ?" tanya pembawa acara itu,
"Yah tunggu saja nanti.." lagi-lagi hanya dijawab dengan datar dan tanpa kepastian.
Tapi akhirnya pertanyaan pembawa acara langsung pada seberapa besar keyakinan beliau akan peluang memenangkan pemilu presiden melawan mantan bosnya itu, beliau langsung menjawab... "yah....51% lah peluangnya......" demikian jawabnya santai tanpa beban....

Lhaa....Sontak saya terkaget dan langsung ingat pada diskusi saya sebulan yang lalu itu bersama kawan saya. Diskusi itu kami menyimpulkan bahwa ternyata dalam bekerja, hampir sebagian besar karyawan hanya mengeluarkan 50% kekuatannya untuk memajukan perusahaan, bahkan si tukang sapu yang biasa membersikan kolong meja saya pun demikian.
Setiap pagi pasti masih ada sisa debu tipis yang menempel di meja atau gagang telpon saya.. "kenapa sihh kok gak tuntas kalo membersihkannya?" gerutu kita..., "Bapak itu juga" sambil menyebut salah satu nama manager diperusahaan kami, "dia juga kalo menyajikan data pasti tidak detail menganalisa kondisi pasar.."
wah.... lagi lagi mereka hanya bekerja seadanya saja, cuman 50% kemampuan yang mereka keluarkan.
Kemudian kita menyimpulkan secara sederhana wah ternyata sangat mudah ya kalo mau unggul dikantor kita ini cukup 1% diatas rata-rata saja atau mengeluarkan usaha 51% dari kemampuan kita, pasti bisa terlihat menonjol deh.... karena yang lain pada es te de semua.....begitu kami berseloroh sambil tertawa geli sambil memberi kesimpulan sederhana... masa sihhhh???
Padahal tambahan usaha lebih besar 1% dari yang lain mana bisa untuk memajukan perusahaan ya...??
Namun ternyata itu juga yang terjadi di negara kita....optimisme yang ada dan effort yang akan diberikan oleh seorang calon presiden kita cukup 1% lebih besar dibanding pesaingnya....
Wah... kayaknya memang ini adalah budaya kerja di negara kita tho.... cuman akan mengandalkan 1% lebih unggul saja dari pesaing sudah mengharap kemenangan..... Pertanyaannya...emang bisa ya untuk memberikan jaminan kemakmuran rakyat kalo cuman namba1% usahanya......wah..wah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar